Spina Bifida dan Skoliosis Pada Anak

Spina bifida adalah kondisi cacat lahir yang terjadi ketika tulang belakang dan saraf tulang belakang tidak terbentuk dengan sempurna.

Kemudian akan menutup pada usia ke-28 minggu janin.

Namun, pada bayi yang terlahir dengan kondisi ini, tabung saraf tidak menutup dengan sempurna. Hal tersebut kerap mengakibatkan kerusakan pada tulang belakang dan saraf tulang belakang.

Spina bifida adalah kondisi kesehatan yang relatif langka. Diperkirakan terdapat hanya 5 hingga 10 percent populasi yang mengalami kelainan ini tanpa menyadarinya. Angka itu setara dengan 1 kasus each 1000 kelahiran.

Secara garis besar, kondisi ini dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu okulta, meningokel, dan mielomeningokel. Ketiga jenis tersebut memiliki ukuran, lokasi, dan tingkat keparahan yang berbeda-beda.

Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai masing-masing jenis spina bifida:

1. Spina bifida okulta

Secara bahasa, “okulta” berarti tersembunyi. Jenis okulta merupakan yang paling ringan dan berupa celah atau ruang kecil di antara ruas-ruas tulang belakang.

Dari semua kasus cacat tulang belakang, sebanyak 15 persennya mengalami jenis okulta. Jenis ini memang umumnya tidak berbahaya dan tidak menunjukkan gejala yang tampak secara fisik. Bahkan, kondisi saraf tulang belakang pun terkadang tidak mengalami kerusakan sama sekali.

Biasanya, mereka baru menyadarinya secara tidak sengaja ketika sedang menjalani tes pemeriksaan lain. Namun, dalam beberapa kasus, penderita tipe okulta merasakan sakit.

2. Spina bifida meningokel

Tipe meningokel termasuk yang cukup jarang ditemukan. Pada tipe ini, membran atau selaput yang melindungi saraf tulang belakang akan terdorong keluar dari bagian tulang belakang dan menembus kulit.

Selanjutnya, selaput yang sudah berada di permukaan kulit itu akan membentuk jaringan menyerupai kantung berisi cairan.

Namun, biasanya jaringan kantung ini tidak mengandung saraf tulang belakang. Oleh karena itu, kondisi ini tidak berbahaya bagi saraf, walaupun terkadang dapat mengakibatkan komplikasi tertentu.

3. Spina bifida mielomeningokel

Tipe mielomeningokel adalah yang paling membahayakan dan sangat langka. Mirip seperti tipe meningokel, kantung berisi cairan keluar dari tulang punggung. Namun, kantung ini mengandung sebagian saraf tulang belakang yang sudah rusak.

Spina bifida mielomeningokel dapat mengakibatkan janin cacat sedang hingga parah. Beberapa di antaranya adalah kesulitan buang air, kaki mati rasa, dan kesulitan berjalan.

Selain itu, sekitar 70 hingga 90% anak yang lahir dengan kondisi ini memiliki cairan berlebih di otaknya, sehingga mereka berisiko mengalami kerusakan otak.

Penyebab dan Faktor Risiko Spina Bifida
Penyebab di balik spina bifida belum diketahui secara pasti, namun diduga ada sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko terjadinya kecacatan ini. Di antaranya adalah:

Kekurangan asam folat. Memiliki kadar asam folat yang cukup terutama sebelum dan selama masa kehamilan sangat penting untuk menurunkan risiko bayi lahir dengan spina bifida. Sebaliknya, defisiensi asam folat merupakan faktor pemicu yang paling signifikan dalam kasus spina bifida serta jenis kecacatan tabung saraf lainnya.
Faktor keturunan. Orang tua yang pernah memiliki anak dengan spina bifida mempunyai risiko lebih tinggi untuk kembali memiliki bayi dengan kelainan yang sama.
Jenis kelamin. Kondisi ini lebih sering dialami oleh bayi perempuan.
Obat-obatan tertentu, khususnya asam valproat dan carbamazepine yang digunakan untuk epilepsi atau gangguan psychological, seperti gangguan bipolar.
Diabetes. Wanita yang mengidap diabetes memiliki risiko lebih tinggi untuk melahirkan bayi dengan spina bifida.
Obesitas. Obesitas pada masa sebelum kehamilan akan meningkatkan risiko seorang wanita untuk memiliki bayi dengan kecacatan tabung saraf, termasuk spina bifida.
Wanita yang memiliki faktor-faktor risiko tersebut dianjurkan untuk mendiskusikannya dengan dokter agar langkah pencegahan dapat dilakukan, terutama bagi wanita yang sedang merencanakan kehamilan.

Baca Juga : Skoliosis, Penyebab, Gajala dan Terapi

Gejala dan Komplikasi Spina Bifida

Tingkat keparahan gejala yang dialami tiap penderita spina bifida bisa bermacam-macam, tergantung lokasi celah yang terbentuk pada tulang belakang. Selain lokasi, tingkat keparahan bergantung juga pada bagian apa saja yang tidak menutup dengan sempurna.

Terdapat beragam gejala yang mungkin disebabkan oleh spina bifida. Secara umum, gejala yang dapat timbul adalah:

Gangguan mobilitas. Kondisi ini ditandai dengan tubuh bagian bawah yang mengalami kelemahan otot atau kelainan tulang belakang bahkan lumpuh.
Gangguan saluran kemih dan pencernaan. Penderita spina bifida umumnya mengalami inkontinensia pee atau inkontinensia tinja karena adanya gangguan pada saraf yang mengatur saluran kemih dan pencernaan.
Hidrosefalus. Kondisi di mana terjadi penumpukan cairan otak sehingga dapat menyebabkan kejang dan gangguan penglihatan.
Penderita spina bifida juga memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami meningitis serta gangguan dalam belajar di kemudian hari. Contoh gangguan dalam proses belajar yang mungkin terjadi meliputi gangguan bahasa, menghitung, serta sulit konsentrasi.

Diagnosis Spina Bifida

Untuk mendeteksi adanya spina bifida, jenis pemeriksaan yang biasanya dilakukan oleh dokter adalah tes darah serta USG.

Melalui tes darah, dokter akan memeriksa kadar alfa-fetoprotein yang terkandung dalam darah ibu hamil. Kadar alfa-fetoprotein yang tinggi bisa menandakan janin berkemungkinan mengidap kecacatan tabung saraf, terutama spina bifida.

Setelah itu, dokter akan menganjurkan pemeriksaan melalui USG untuk memastikan diagnosis. Kelainan spina bifida umumnya dapat terdeteksi pada pemeriksaan USG, misalnya terlihat kelainan struktur tertentu pada otak bayi yang mengindikasikan spina bifida.

Tes lebih lanjut yang juga mungkin disarankan adalah amniosentesis, yaitu prosedur pengambilan sampel cairan ketuban. Cairan tersebut kemudian akan diperiksa di laboratorium. Sebelum menjalani tes ini, ibu hamil dianjurkan untuk mendiskusikan risikonya terlebih dahulu dengan dokter karena tes ini berpotensi membahayakan janin.

Pemeriksaan lain yang mungkin diperlukan adalah pemeriksaan pada bayi pasca kelahiran. Bayi yang terlahir dengan spina bifida harus menjalani beberapa tes seperti USG, CT scan, atau MRI untuk menentukan tingkat keparahan dan membantu menentukan prosedur penanganan yang paling tepat.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Warung Jati Barat No. 34, RT007/005, Kalibata, Jakarta 12760

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Appointment Now

Konsultasi Via Call Center