Skoliosis ini Gejala dan Diagnosisnya

Skoliosis atau dalam bahasa latin disebut sebagai scoliosis merupakan abnormalitas tiga dimensi yang menyebabkan tulang belakang mengalami rotasi atau melengkung ke salah satu sisi tubuh, baik ke kiri maupun kanan. Penyebab utama dari kondisi ini masih tidak diketahui secara pasti, dan di klasifikasikan sebagai skoliosis idiopatik. Meski tidak diktahui secara pasti, riwayat keluarga dengan skoliosis idiopatik memberikan peran penting dalam terjadinya  scoliosis pada generasi selanjutnya. Hingga pada akhirnya para pakar berpendapat bahwa ada keterlibatan gen tertentu pada kejadian scoliosis, meski hingga saat ini belum diketahui gen apa yang terlibat didalamnya, dengan beberapa factor lain yang terlibat selain factor genetic.

“Issue terkait scoliosis yang terjadi di masyarakat dikarenakan kebiasaan membawa tas yang terlalu berat, tidur miring adalah berita bohong,” jelas Dr. dr. Wawan Mulyawan SpBS dari Lamina Pain and Spine Center. Karena penyebab scoliosis tidaklah demikian adanya. Dalam dunia kedokteran kasus scoliosis idiopatik ini prevalensinya diperkirakan mencapai 3% dari total populasi. Dengan demikian jika jumlah penduduk Indonesia mencapai 280 juta jiwa, ada sekitar ada sekitar 8 juta orang di Indonesia mengalami scoliosis. Indiopatik scoliosis sesuai dengan umur terjadinya dibagi menjadi 3 tipe, diantaranya;

  • Infantil idiopatik scoliosis, terjadi pada bayi baru lahir hingga 3 tahun.
  • Juvenile idiopatik scoliosis terjadi mulai usia 4 sampai dengan 9 tahun
  • Adolescent idiopatik scoliosis yang terjadi pada usia 10 – 18 tahun.

Dari sekian tipe scoliosis, adolescent scoliosis atau scoliosis pada remaja menyumbang lebih dari 80% kejadian. Hal ini banyak diakibatkan proses pertumbuhan pada usia 10-18 tahun. Dengan kata lain pada usia 10-18 tahun merupakan masa penting bagi kita sebagai orang tua untuk memperhatikan pertubuhan tulang belakang buah hati.

Tahap Awal Sering Tanpa Gejala

Diagnosis scoliosis secara medis ditetapkan ketika terjadi kelengkungan minimal 10 derajat dari normal. Ini dapat terlihat melalui pemeriksaan X-ray tulang belakang atau pemeriksaan radiologis lainnya. Pada kondisi ini penderita sering tidak memiliki gejala apapun.

Saat derajat kelengkungan tulang belakang sudah mencapai 20 derajat, atau bahkan lebih. Hal ini akan lebih mudah dilihat secara kasat mata oleh orang-orang sekitar. Seperti bentuk bahu yang mulai miring, tampilan baju yang terlihat tidak rata. Derajat scoliosis yang berat selain dapat menyebabkan gangguan mobilitas tubuh bagian atas, disisi lain juga dapat mengakibatkan kejang otot, atau masalah kesehatan lain seperti penekanan pada paru atau organ lainnya sehingga menyebabkan rasa sakit pada penderitanya.

Baca Juga : Posisi Tidur Terbaik untuk Pengidap Nyeri Punggung

Kapan Harus ke Dokter

Saat melihat tulang belakang melengkung, meski hanya sedikit, segera periksakan ke dokter. Tujuannya adalah agar skoliosis dapat terdeteksi sejak dini dan ditangani. Sebab jika tidak, bisa bertambah buruk secara perlahan dan tanpa nyeri, hingga akhirnya menimbulkan komplikasi yang dapat bersifat permanen.

Penyebab Skoliosis

Sebagian besar kasus skoliosis tidak ditemukan penyebabnya (idiopatik). Namun, terdapat beberapa kondisi yang dapat memicu terjadinya skoliosis, yaitu:

  • Cedera tulang belakang.
  • Infeksi tulang belakang.
  • Bantalan dan sendi tulang belakang yang mulai aus akibat usia (skoliosis degeneratif).
  • Bawaan lahir (skoliosis kongenital).
  • Gangguan saraf dan otot (skoliosis neuromuskular), misalnya penyakit distrofi otot atau cerebral palsy.

Diagnosis Skoliosis

Diagnosis skoliosis dilakukan oleh dokter dimulai dengan menanyakan gejala yang dialami pasien dan penyakit yang pernah dialami. Selanjutnya, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik. Dalam pemeriksaan fisik, dokter akan meminta pasien untuk berdiri atau membungkuk. Dokter juga akan memeriksa kondisi saraf untuk mengetahui apakah ada otot yang lemah, kaku, atau menunjukkan refleks yang abnormal.

Selain pemeriksaan fisik, doter juga dapat melakukan pemeriksaan foto Rontgen dan CT scan untuk memastikan adanya skoliosis dan mengetahui tingkat keparahan lengkungan tulang belakang. Jika dokter mencurigai kelainan pada tulang belakang disebabkan oleh hal lain, maka dokter dapat melakukan pemindaian dengan MRI.

 

2 Comments
  1. Pingback: Posisi Tidur Terbaik untuk Pengidap Nyeri Punggung | Klinik Nyeri dan Tulang Belakang

  2. Pingback: Nyeri Punggung Pada Anak, Memahami Keluhan Mereka | Klinik Nyeri dan Tulang Belakang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jl. Warung Jati Barat No. 34, RT007/005, Kalibata, Jakarta 12760

Informasi dan Pendaftaran

Informasi dan Pendaftaran

021-7919-6999

marketingklinik@gmail.com

Book Online

Appointment Now

Konsultasi Via Call Center